Awas, Kompeni Modern!

Posted on October 7, 2007. Filed under: Bincang |

Masih ingat permainan Cublek-Cublek Suweng atau dongeng Ande-Ande Lumut? Dua itu adalah beberapa dari warisan budaya tanah air yang sudah mulai tergerus jaman seiring makin seringnya lapisan bumi kita terguyur banjir. Permainan tradisional dan dongeng-dongeng lain pun semakin tipis tersisa di otak kita yang kini sudah dipenuhi oleh iPod, Paris Hilton, dan produk-produk milenium lainnya. Bagaimana pula dengan sejarah dalam buku PSPB yang kini telah berganti nama itu? Mungkin generasi muda kita juga sudah mulai melupakan cerita-cerita tentang bagaimana berkobarnya semangat para pahlawan berjuang memerdekakan negeri ini. Lebih parahnya, bahkan mungkin tidak hanya ceritanya tapi juga nama-nama para pahlawan negeri ini telah terhapus dari ingatan kita. Apakah ini menandakan kita mulai kehilangan semangat kebangsaan kita?

Tampaknya hal ini bukan hanya terjadi pada generasi muda kita melainkan juga pada generasi sebelum kita. Namun sebelum mencoba mengusik semangat kebangsaan generasi di atas kita, mari kita tengok kembali sebuah cerita seorang pahlawan yang cukup menarik dari Tanah Rencong. Ya, siapa yang tak kenal dengan Teuku Umar? Well, mungkin saja ada, tapi saya yakin hampir semua murid SD tahu siapa dia. Sejarah perang yang pernah dijalani Teuku Umar pastinya sudah banyak yang tahu. Saya tak akan menceritakan hal itu lagi karena memang bukan hal itu yang menggelitik nurani saya saat mendengarkan penjelasan seorang guru sejarah saat saya masih di sekolah dulu.

Seperti biasa, sang guru mendongengkan kisah heroik sang pahlawan sampai pada suatu bagian yang menceritakan bahwa Teuku Umar sebagai prajurit yang tangguh pernah direkrut Kompeni untuk menjadi supervisor sebuah gudang senjata yang dipakai untuk menjajah negeri ini. Karena Teuku Umar adalah seorang pribumi, Kompeni masih harus mengujinya dan melihat loyalitas dan totalitasnya terhadap employer. Suatu saat terjadi bentrokan bersenjata antara gerilyawan Indonesia dan Kompeni. Di saat itu, sebagai bawahan yang setia Teuku Umar ikut menembaki gerilyawan sehingga Kompeni pun semakin menaruh kepercayaan padanya. Tentu saja Teuku Umar melakukan ini dengan sebuah rencana. Tanpa sepengetahuan Kompeni, Teuku Umar yang bisa mengakses gudang senjata dengan mudah menyelundupkan senjata-senjata itu untuk pasukan gerilya sehingga mereka bisa menyerang balik Kompeni. Dengan ini meski Teuku Umar telah ikut menembaki bangsanya sendiri, ia melakukannya dengan penuh perhitungan demi kepentingan yang lebih besar. Sampai di sini ceritanya berlanjut ke kehidupan modern paska kemerdekaan.

Demi menyingkat tempat, dimulai di UI, terbentuklah suatu kelompok yang pada perkembangannya telah banyak mempengaruhi arah perjalanan bangsa ini secara makro, yang kemudian dikenal dengan Mafia Berkeley. Sumitro Djojohadikusumo yang, purposely or not, telah membuka jalan bagi Kompeni modern untuk menanamkan pengaruhnya di negeri ini. Melalui Ford Foundation mengalirlah dana untuk menyekolahkan orang-orang berpotensi negeri ini ke University of California Berkeley yang pada gilirannya memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan-kebijakan ekonomi Indonesia. Sayangnya, kebijakan-kebijakan tersebut bukan ditujukan untuk kemajuan masyarakat banyak namun untuk mengeksploitasi kekayaan Indonesia. Berikut kutipan sebuah artikel di website KAU (Koalisi Anti Utang), “Dalam masa studinya, sebagaimana ditulis David Ransom (Ramparts, Oktober 1970), kelompok ini dicekoki teori-teori liberal, yang percaya bahwa ekonomi berorientasi pasar adalah jalan terbaik untuk kemajuan Indonesia. Doktrin ini mengajarkan, Indonesia hanya bisa duduk sejajar dengan negara maju lainnya, jika mengintegrasikan diri ke dalam sistem kapitalisme global.”

Dari apa yang terjadi di dua masa yang berbeda ini, kita juga bisa melakukan sedikit compare-and-contrast antara Teuku Umar dan Mafia Berkeley ini. Kesamaan: Teuku Umar dan Mafia Berkeley sama-sama pernah bekerjasama dengan pihak lawan. Keduanya mengemban tugas penting dan menerima kepercayaan yang cukup besar di dalamnya. Perbedaan: Teuku Umar menggunakan kesempatan kerjasama ini sebagai sebuah jalan demi kepentingan bangsanya. Sedangkan para Mafia Berkeley malah keasyikan dengan ajaran guru-guru mereka sampai lupa bahwa sekembalinya ke tanah air mereka seharusnya memutar balik keadaan. Yang ada mereka justru keterusan mengeksploitasi bangsa sendiri lebih jauh. Kepatuhan terhadap guru mereka yang seharusnya hanya ada di meja belajar benar-benar teraplikasikan di lapangan. Di saat bangsa ini berjuang untuk menjadi sebuah negara yang benar-benar independent dan berdaulat, rencana akan dibubarkannya CGI dan juga pelepasan Indonesia dari IMF bukanlah hal yang menyenangkan bagi mereka. Hutang negara adalah salah satu jalan yang membuat mereka kaya.

Ironis memang, tapi itulah yang kita hadapi: segelintir bangsa sendiri yang diam-diam meracuni kita. Membedakan musuh yang Kompeni adalah mudah karena warna rambut dan seragam mereka berbeda. Membedakan bangsa sendiri yang bekerja sama dengan Kompeni itu yang sulit. Warna rambut, kulit, dan mata mereka sama seperti kita. Kita harus siap untuk menghadapi mereka secara intelektual. Jangan mudah kita mempercayai rayuan dollar. Jangan mudah kita terlena oleh bantuan luar negeri. Bohong kalau ada bantuan luar negeri yang tidak ditumpangi rencana dibalik dollar. Maka, kalau Teuku Umar dulu memakai rencong, senjata kita sekarang adalah ilmu pengetahuan. Yang kita perjuangkan masih sama: integritas bangsa ini. Jangan sampai segelintir mafia itu menguasai negeri ini (lagi). Awas, Kompeni Modern! Kalau sudah begini, Revolusi Budaya adalah jawabannya!

Make a Comment

Make a Comment: ( 4 so far )

blockquote and a tags work here.

4 Responses to “Awas, Kompeni Modern!”

RSS Feed for Es Teh Adem Comments RSS Feed

Hehe artikel ini nyampe ke milis Permias juga. You have some really good points here, gue setuju banget for the fact that it’s being shared with other youngsters out there :)

It’s about time we start to think back and appreciate more of what our ancestors got for us, eh?

Wah thanks ya mas/mbak, sering-sering cek aja milis Permias n blog.
Anyway, ni siapa ya?

apa pada tahu bunyi sumpah pemuda, secara sekarang banyak orang berbicara dengan bahasa inggris + indonesia

salam budaya pembebasan mas Ian, dan sejahtera bersama tentunya. Sepakat saya dgn perlunya revolusi budaya.
sebagai langkah membangun karakter nasional bangsa.

“Secara Getooh loch, Ek’e kan Anak Nongkrong MTV. gaul bo.” Nah lo!!

Begitu miris hati ini, melihat gelombang budaya saat ini yang di cekoki oleh budaya nina bobo.


Where's The Comment Form?

  •  

    October 2007
    M T W T F S S
    « Aug   Dec »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...